Home » , » Hakikat Iedul Adha'

Hakikat Iedul Adha'

Posted by Ujaran on Tuesday, August 29, 2017

idul adha, ismail, ibrahim, hajar, zam-zam, islam, haji, muslim, kisah

[ujaran.com] — Idul adha adalah tentang Nabi Ibrahim. Seorang nabi yang selama bertahun-tahun tidak diberi keturunan. Silahkan bertanya kepada pasangan suami istri yang tak kunjung punya momongan. Bagaimana rasanya, bagaimana sedihnya. Saya yakin, rasa sedih dan sakitnya sulit diungkapkan. 

Lantas, saat akhirnya diberi keturunan, tiba-tiba Allah meminta sang anak untuk disembelih. 

Apa yang anda rasakan jika anda diminta menyembelih anak kesayangan anda? Apakah akan anda lakukan, atau anda akan menentangnya? 

Jujur sajalah. Jangankan menyembelih anak. Jangankan menyerahkan anak kesayangan kepada Allah. Kita ini disuruh zakat saja berat. Disuruh sedekah saja kebanyakan alasan. Disuruh meninggalkan riba yang jelas-jelas diperangi Allah saja bisa melawan. 

Kita bahkan berani kok bilang kalau enggak KPR mana bisa punya rumah. Kalau enggak leasing mana bisa beli mobil. Seolah-olah bank memiliki kekuasan yang lebih besar dari Tuhan yang menciptakan dan memiliki seluruh alam semesta ini. 

Dan Ibrahim, secinta apa pun dia kepada anaknya, tapi ketaatannya kepada Allah tak tergantikan. Maka saat Allah memintanya menyembelih Ismail, Ibrahim melakukannya. 

Idul Adha adalah tentang Siti Hajar. Seorang istri yang diajak berjalan jauh di hamparan pasir gersang yang panasnya enggak ketulungan. Setelah sampai di satu lembah mereka berhenti. Lalu suaminya berkata, kurang lebihnya begini : 

"Aku tinggalkan engkau di sini wahai istriku. Apa pun yang terjadi janganlah engkau meninggalkan lembah ini."

Kemudian suaminya pergi. Tidak meninggalkan apa-apa. Tidak meninggalkan uang, ATM, kartu kredit, mobil utangan, apalagi rumah KPR. 

Siti Hajar bertanya kepada suaminya. Engkau mau kemana? Pertanyaan itu dia ulang hingga tiga kali, tapi ia hanya mendapat sepi. Suaminya diam seribu bahasa. Baru saat sang istri bertanya: apakah ini perintah dari Allah? Ibrahim menjawab : Iya. Sesungguhnya Allah yang memerintahku.

Taukah engkau apa jawaban bunda Hajar? 

"Baiklah, jika ini perintah dari Allah. Pergilah suamiku. Jangan risaukan kami. Allah pasti akan mencukupi kebutuhan kami. Allah tidak akan menelantarkan hambaNya."

Sepeninggal Ibrahim, banyak cobaan menimpa bunda Hajar. Terutama saat Ismail menangis kehausan. Hajar mencari-cari sumber mata air tapi tak ada. Ia berlari-lari mengelilingi lembah dengan napas yang tersengal. Tapi dia tidak menemukan mata air. 
Ia ingin pergi keluar lembah, akan tetapi Ibrahim sudah berpesan: apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan lembah ini. 





Dalam keadaan lelah, namun tetap memegang ketaatan pada perintah suami dan keyakinan bahwa Allah akan memelihara mereka, bunda Hajar kembali menemui Ismail yang ia tinggal di gurun. Sampai di sana dia terkejut. Di depan ismail menyembur air dari balik pepasir. Air yang selalu memancar deras dan tak pernah kering bahkan setelah berabad-abad kemudian. 

Mata air inilah yang sampai sekarang kita sebut air zam-zam. 

Alangkah mulianya akhlak Siti Hajar. Akhlaknya sebagai istri, juga akhlaknya sebagai hamba Allah. Hajar tidak protes begitu tahu suaminya melakukan sesuatu yang tampaknya keji itu karena ia diperintah Allah. Hajar justru meyakinkan suaminya, bahwa Allah pasti akan melindungi dia dan Ismail.

Meski mereka mau mati karena kehausan, bunda Hajar tidak meninggalkan lembah. Sebab dia patuh pada suaminya yang berpesan: apapun yang terjadi jangan meninggalkan lembah. 

Bandingkan dengan istri-istri jaman sekarang. Atau coba tanya pada diri anda sendiri. Jika anda yang menjadi Hajar, mungkinkah anda tetap di lembah melihat anak anda kehausan?

Mungkin anda akan keluar dari lembah untuk mencari pertolongan. Atau sekalian ajak Ismail untuk pergi dari lembah. Ngapain di situ wong gersang. Bisa terbakar kulit anda dan anak anda. Ya gak...?

Tapi bunda Hajar taat pada suaminya dan taqwa pada Tuhannya. Makanya dia patuh dan percaya. Kemudian Allah abadikan ketaatan Hajar. Lari berkeliling 7 kali dalam sya'i bagi jamaah haji adalah monumen larinya Siti Hajar saat berlari-lari mencari air minum untuk Ismail. 

Idul Adha adalah kisah tentang Ismail. Seorang anak yang ditinggal pergi bapaknya di tengah gurun selama bertahun-tahun. Dan saat bertemu kembali, saat sedang asyik-asyiknya melepas rindu, tiba-tiba sang bapak bertanya: apakah aku boleh menyembelihmu?

Silahkan tanyakan itu pada anak-anak anda. Niscaya anda akan dianggap gila. Atau bisa jadi malah anda yang disembelih anak anda.

Tapi apa jawab Ismail?

"Baiklah ayahanda. Kalau memang itu perintah dari Allah, maka lakukanlah." 

Dan hari itu, sepasang suami istri beserta anaknya yang taat pada Allah sedang diuji. Patuhkah mereka kepada Tuhannya? 

Ternyata mereka patuh. Ibrahim taat, Siti Hajar pasrah, dan Ismail rela. Ketiganya tidak melakukan pembelaan apa pun atas perintah dari Tuhannya. Allah kemudian mengabadikan kisah heroik ini dalam Idul Adha. 

Idul Adha adalah sebuah kisah yang sangat sakral. 

Tentang Ibrahim yang rela menyembelih anaknya demi imannya pada Allah. Tentang Hajar yang taat pada perintah suami untuk tidak meningalkan lembah. 7 kali ia berlari mengelilingi lembah kemudian Allah jadikan salah satu rukun dalam ibadah haji. Tentang Ismail yang rela disembelih ayahnya karena yakin bahwa perintah Allah pasti yang terbaik. [dw]  

Scrool ke bawah untuk berita, info, artikel, unik dan seru lainnya di ujaran.com

Thanks for reading & sharing Ujaran

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment